Harkitnas 2026, Assoc Prof Dr Hermanu Iriawan: Jaga Tunas Bangsa Demi Kedaulatan Bangsa
PORTALINDEPENDEN.COM, BIAK - Hari Kebangkitan Nasional tahun 2026 bukan sekadar momentum seremonial yang diperingati setiap tanggal 20 Mei, melainkan sebuah refleksi historis dan moral bagi seluruh elemen bangsa untuk kembali meneguhkan arah perjuangan Indonesia di tengah dinamika global yang semakin kompleks. Tema “Jaga Tunas Bangsa demi Kedaulatan Bangsa” mengandung pesan strategis bahwa masa depan Indonesia sangat ditentukan oleh kualitas generasi mudanya sebagai tunas peradaban bangsa. Dalam konteks ini, kebangkitan nasional harus dimaknai sebagai gerakan kolektif untuk membangun manusia Indonesia yang berkarakter, berdaya saing, dan memiliki kesadaran kebangsaan yang kuat.
Sejarah telah mencatat bahwa lahirnya semangat kebangkitan nasional pada tahun 1908 tidak terlepas dari kesadaran kaum terdidik terhadap pentingnya persatuan, pendidikan, dan identitas nasional. Spirit tersebut relevan hingga saat ini ketika bangsa Indonesia menghadapi tantangan baru berupa disrupsi teknologi, krisis moral, polarisasi sosial, hingga ancaman lunturnya nilai-nilai kebangsaan di kalangan generasi muda. Oleh karena itu, menjaga tunas bangsa tidak hanya dimaknai sebagai upaya melindungi anak-anak dan generasi muda secara fisik, tetapi juga memastikan mereka tumbuh dalam lingkungan pendidikan, sosial, budaya, dan digital yang sehat serta berorientasi pada nilai-nilai Pancasila.
Kedaulatan bangsa pada era modern tidak lagi hanya diukur dari kekuatan politik dan pertahanan negara, tetapi juga ditentukan oleh kemampuan bangsa dalam mengelola sumber daya manusianya. Bangsa yang kuat adalah bangsa yang mampu menciptakan generasi yang kritis, inovatif, produktif, dan memiliki integritas moral. Dalam hal ini, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab strategis sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan, pembentukan karakter, dan penguatan kesadaran sosial masyarakat. Pendidikan tinggi tidak boleh hanya menghasilkan lulusan yang cerdas secara akademik, tetapi juga melahirkan generasi yang memiliki kepedulian terhadap persoalan bangsa dan daerahnya.
Sebagai institusi pendidikan tinggi di Biak Numfor Papua, Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Yapis Biak memandang bahwa momentum Hari Kebangkitan Nasional harus dijadikan titik tolak untuk memperkuat komitmen bersama dalam membangun sumber daya manusia Papua yang unggul, inklusif, dan berdaya saing global tanpa kehilangan identitas lokalnya. Generasi muda Papua harus diberikan ruang untuk berkembang melalui pendidikan yang berkualitas, penguatan literasi digital, pengembangan kepemimpinan, serta pemberdayaan sosial berbasis kearifan lokal. Sebab, kebangkitan suatu bangsa akan lahir ketika generasi mudanya percaya terhadap masa depan bangsanya sendiri.
Di tengah derasnya arus globalisasi, tantangan terbesar bangsa saat ini adalah menjaga karakter generasi muda agar tidak tercerabut dari akar budaya dan nilai kebangsaan. Fenomena individualisme, penyebaran disinformasi, intoleransi, serta rendahnya etika dalam ruang digital menjadi alarm sosial yang harus direspons secara serius oleh negara, lembaga pendidikan, keluarga, dan masyarakat. Kebangkitan nasional di era digital harus diwujudkan melalui pembangunan kesadaran kolektif bahwa ruang digital juga merupakan ruang perjuangan ideologis dan moral bangsa. Karena itu, menjaga tunas bangsa berarti menjaga kualitas pemikiran, etika, dan orientasi masa depan generasi muda Indonesia.
Momentum Hari Kebangkitan Nasional 2026 juga menjadi pengingat bahwa pembangunan bangsa tidak dapat dilakukan secara parsial. Diperlukan kolaborasi antara pemerintah, akademisi, tokoh adat, tokoh agama, pemuda, dan masyarakat sipil untuk menciptakan ekosistem pembangunan yang berpihak pada generasi muda. Investasi terbesar bangsa sesungguhnya bukan hanya pembangunan infrastruktur fisik, melainkan pembangunan manusia yang berintegritas dan memiliki semangat pengabdian kepada bangsa dan negara.
Akhirnya, semangat kebangkitan nasional harus terus dihidupkan dalam tindakan nyata, bukan berhenti pada slogan dan seremoni tahunan. Menjaga tunas bangsa berarti menjaga harapan Indonesia. Ketika generasi muda tumbuh dengan pendidikan yang baik, karakter yang kuat, serta semangat cinta tanah air, maka kedaulatan bangsa akan tetap kokoh menghadapi berbagai tantangan zaman. Hari Kebangkitan Nasional 2026 harus menjadi momentum untuk membangkitkan optimisme, memperkuat persatuan, dan menegaskan kembali bahwa masa depan Indonesia berada di tangan generasi penerus bangsa yang hari ini sedang kita jaga bersama.
Opini Oleh: Assoc. Prof. Dr. Hermanu Iriawan, S.E., M.Si, (Rektor Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Yapis Biak)
