HEADLINE
Mode Gelap
Artikel teks besar

Papan Proyek Rp1,8 Miliar Tergeletak di Tanah, Pekerja Diduga Abaikan K3 di Proyek Revitalisasi SLB Jeneponto

PORTALINDEPENDEN.COM, JENEPONTO - Pelaksanaan proyek revitalisasi SLB Syahrial Al-Muadzdir di Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan, disorot. Selain persoalan keselamatan dan kesehatan kerja (K3), papan informasi proyek yang semestinya mudah terlihat justru ditemukan tergeletak di tanah di belakang area bangunan.

Pantauan langsunt, Sabtu (5/9/2026), papan proyek tersebut berada tepat di samping rumah warga. Posisinya tidak tertancap sebagai papan informasi proyek, melainkan terbaring di atas tanah.

Kondisi tersebut membuat informasi mengenai proyek sulit diketahui masyarakat yang berada di sekitar lokasi. Papan yang ditemukan juga berukuran relatif kecil dan tidak mencantumkan nama perusahaan berbentuk PT sebagai pelaksana. 

Dalam papan tersebut tercantum kegiatan Bantuan Revitalisasi Satuan Pendidikan Sekolah Luar Biasa (SLB) Syahrial Al-Muadzdir dengan nilai bantuan Rp1.849.018.000 yang bersumber dari APBN Tahun Anggaran 2026.

Papan proyek menyebut pelaksana kegiatan adalah Panitia Pembangunan Satuan Pendidikan (P2SP) SLB Syahrial Al-Muadzdir, dengan waktu pelaksanaan 150 hari kalender.

Selain persoalan papan proyek, kondisi keselamatan kerja di lokasi juga menjadi sorotan. Sejumlah pekerja terlihat menjalankan aktivitas pembangunan tanpa perlengkapan K3 yang memadai.

Padahal, aktivitas pembangunan berlangsung di area yang berdekatan dengan permukiman warga sehingga aspek keselamatan pekerja maupun masyarakat sekitar semestinya menjadi perhatian.

Ketua Yayasan SLB Syahrial Al-Muadzdir, Aswar, membenarkan bahwa papan proyek tersebut sebelumnya pernah dipasang.

"Kalau papan proyeknya pernah dianu tapi na (hempas) anu angin," kata Aswar saat ditemui.

Saat ditanya lebih jauh mengenai pelaksanaan pembangunan, termasuk pihak yang bertanggung jawab terhadap pekerjaan fisik, Aswar mengaku tidak mengetahui secara detail.

"Kalau masalah bangunan saya tidak tahu, kan kita sebagai punya Yayasanji," ujarnya.

Ia juga mengaku pihak yayasan hanya menerima bantuan tersebut dan tidak mengetahui secara rinci mengenai sumber maupun pengelolaan pendanaan pembangunan.

"Kan kita cuma dikasi saja bantuan, tidak tahu pendanaan," katanya.

Berdasarkan informasi yang diperoleh, pengawas proyek tersebut diketahui berasal dari Makassar. Namun, ketika dimintai kontak pengawas maupun pihak yang mengerjakan pembangunan, Aswar mengaku tidak mengetahuinya.

Kontak anaknya yang disebut sebagai kepala sekolah juga belum diberikan kepada media ini.

"Nantipi Kuhubungi dulu, pergi pasar," ujarnya.

Hingga berita ini ditulis, belum diperoleh penjelasan dari pihak pengawas maupun pihak yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan teknis proyek terkait posisi papan proyek, penerapan K3, serta mekanisme pelaksanaan pembangunan